Pengertian, Makna dan Hakikat Muhasabah

Muhasabah*)

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiapb diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Q.S.Al-Hasyr (59):18]

Pengertian Muhasabah

Muhasabah berasal dari kata hasibah yang artinya menghisab atau menghitung.Dalam penggunaan katanya, muhasabah diidentikan dengan menilai diri sendiri atau mengevaluasi, atau introspeksi diri.

Dari firman Allah di atas tersirat suatu perintah untuk senantiasa melakukan muhasabah supaya hari esok akan lebih baik.

Urgensi Muhasabah

Hari berganti hari, demikian juga dengan bulan dan tahun. Kalau kita memperhatian pergantian waktu ini, sesungguhnya kehidupan dunia makin lama makin menjauh sedang pada kesempatan yang sama kehidupan akhirat makin mendekat.

Kita perhatikan keadaan di lingkungan tempat kita kerja dan di tengah keluarga, apakah masih tetap ? Secara jujur kita harus jawab tidak, kemana mereka? Sebagian karena sudah meninggal, Apakah yang meninggal hanya mereka? Jawabnya tentu tidak. Kitapun pasti akan meninggal.

Firman Allah dalam Al Qur'an :

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati " (Q. S. Ali Imran. 3:185), kemudian sesudah mati kita akan dihidupkan kembali, sebagaimana firman-Nya :

”Sesungguhnya kamu akn dibangkitkan sesudah mati " (Q. S. Huud, 11 : 7) Untuk apa ? Untuk mempertanggung jawabkan semua amal perbuatan kita, baik yang burhubungan dengan ibadah maupun amaliah.

Maka dalam melakukan muhasabah, seorang muslim menilai dirinya, apakah dirinya lebih banyak berbuat baik ataukah lebih banyak berbuat kesalahan dalam kehidupan sehari-harinya. Dia mesti objektif melakukan penilaiannya dengan menggunakan Al Qur'an dan Sunnah sebagai dasar penilaiannya bukan berdasarkan keinginan diri sendiri.

Oleh karena itu melakukan muhasabah atau introspeksi diri merupakan hal yang sangat penting untuk menilai apakah amal perbuatannya sudah sesuai dengan ketentuan Allah. Tanpa introspeksi, jiwa manusia tidak akan menjadi baik.

1 Imam Turmudzi meriwayatkan ungkapan Umar bin Khattab dan juga Maimun bin Mihran mengenai urgensi muhasabah.

Umar r.a. mengemukakan:

"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk akhirat (yaumul hisab).

Al Hasan mengatakan : orang-orang mumin selalu mengevaluasi dirinya karena Allah. Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia”.

Maimun bin Mihran r.a. menyampaikan:

"Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya”.

Urgensi lain dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah SWT. sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya. Firman Allah:

"Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.”

[QS. Maryam (19): 95]

Aspek-aspek yang perlu dimuhasabahi

Firman Allah:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]

Berdasarkan ayat di atas, maka yang harus dimuhasabahi meliputi seluruh aspek kehidupan kita, baik yang berhubungan dengan Allah (ubudiyah) maupun hubungan dengan sesama manusia (muamalah) yang mengandung nilai ibadah.

Aspek-aspek tersebut diantaranya adalah:

1. Aspek Ibadah yang berhubungan dengan Allah

Dalam pelaksanaan ibadah ini harus sesuai dengan ketentuan dalam Al-Quran dan Rosul-Nya. Dalam hal ini Rasulluh SAW telah bersabda : "Apabila ada sesuatu urusan duniamu, maka kamu lebih mengetahui. Dan apabila ada urusan agamamu, maka rujuklah kepadaku ". (HR. Ahmad).

2. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki

Aspek ke dua ini sering dilupakan bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan. Karena aspek ini diangggap semata-mata urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya.

2 Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:

'Tidak akan bergerak telapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.'(HR. Turmudzi)

3. Aspek Kehidupan Sosial

Aspek kehidupan sosial dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengansesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw. dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda: 'Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu ?'

Sahabat menjawab:

"Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.”

Rasulullah saw. bersabda:

'Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa), menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain.

Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)

Apabila melalaikan aspek ini, maka pada akhir khayatnya orang akan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain.

Jadi, muhasabah dapat diraih dengan melakukan hal-hal berikut:

1. Melakukan perbandingan sehingga menjadi terlihat kelalaian yang selama ini belum disadari.

2. Memikirkan kelemahan yang ada dalam diri.

3. Hendaknya ditanamkan dalam diri rasa takut kepada Allah SWT

4. Menanamkan ke dalam dirinya perasaan bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah dan bahwa Allah melihat semua yang tersembunyi dalam dirinya, karena sesungguhnya tiada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan Allah.

Seperti yang tersirat dalam firman-Nya:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya”

[QS. Qaaf (50):16]

3 Bagaimana cara yang mudah untuk bermuhasabah :

Setelah selesai shalat Isya, atau sebelum tidur, melakukan evaluasi perilaku atau perbuatan yang telah dijalani, mulai dari pagi sampai dengan sore hari.

1. Mulailah dengan hal-hal yang berkaitan dengan rukun islam dan rukun iman.

2. Kemudian mengingat hal-hal yang berkaitan dengan sesama manusia seperti

orang tua kita, istri, suami, anak, saudara, tetangga, teman di tempat kerja dll.

3. Akuilah kegagalan-kegagalan dalam mengatasi ujian Allah sepanjang hari, beristigfarlah kepada Allah, bertaubatlah kepada-Nya. Semoga Allah berkenan menerima taubat kita, lalu berniatlah untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan tersebut dan tekadkan niat kita bahwa besok akan tampil lebih baik lagi.

4. Jika ternyata kita ada masalah dengan sesama manusia maka kita harus berani minta maaf dan mintalah kerelaan mereka.

Kapan seharusnya kita memulai muhasabah?

Pengalaman menunjukkan bahwa kita samasekali tidak tahu kapan, dimana sedang apa seseorang menemui kematiannya, karena itu sudah semestinya kita lakukan sejak sekarang. Dan barangsiapa yang melakukan introspeksi diri hari ini, niscaya dia akan memperoleh keamanan hari esoknya

Apa gunanya muhasabah yang singkat ini ?

Manfaat dari muhasabah ini adalah jika Allah takdirkan kita meninggal malam itu maka kita akan menghadap kehadirat-Nya dalam keadaan telah bertaubat. Akan tetapi jika kita ditakdirkan bisa menghirup udara segar pada esok harinya, maka kita akan mendapatkan manfaat yang antara lain, yaitu:

1.

2. Kita akan selalu berusaha untuk menghindari kesalahan

Atau, apabila kita terjerumus kembali dalam kesalahan kemudian kita bertaubat kembali, demikian seterusnya hingga kita akan merasa malu terhadap Allah setelah berkali-kali bertaubat.

Menurut Khalid bin abdul Aziz Al-Jubair (2007) banyak orang yang bisa meninggalkan kebiasaan buruknya melalui cara ini. Mudah2an kita juga bisa melakukannya.

Selain itu, menurut Albasyah (2005) untuk memelihara "kesadaran” agar tetap tinggi, kita perlu mencoba langkah berikut ini dengan konsisten, yaitu:

Setiap akan meninggalkan rumah, kita coba merenung sejenak untuk:

1. Bertekad dengan segenap kesungguhan hati akan mengontrol nafsu dan akan bertindak sesuai dengan "aturan main” Allah, baik pada jalur hablum minallah maupun pada jalur hablum minanas,

2. Menyadari (mengantisipasi) bahwa sepanjang hari ini akan menghadapi ujian-ujian Allah, seperti: bergunjing, berprasangka buruk, dengki, malas shalat, ataupun diperlakukan tidak baik.

InsyaAllah kita semua merupakan orang-orang yang bertakwa, yang dalam menempuh hidup ini memiliki visi yaitu untuk mendapatkan ridha Illahi, sehingga bisa melakukan muhasabah.

4 Imam Hasan Al-Bashri berkata:

"Seorang mukmin adalah panglima untuk dirinya sendiri, ia mengatur dan menginspeksi dirinya sendiri karena mengharapkan keridhaan Allah SWT”.

Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi seorang hamba untuk bersikap objektif terhadap dirinya sendiri.

Jika dia melihat dirinya melakukan kekeliruan, hendaknyalah dia menanggulanginya dengan cara meninggalkannya, melakukan taubat yang bersih, dan berpaling dari semua hal yang menyebabkan dia melakukan kesalahan tersebut.

Jika setiap individu bisa memperbaiki diri, insya Allah akan tercipta keluarga, masyarakat, institusi, negara yang baik pula.

Rasulullah SAW membagi manusia dalam 3 golongan:

1. Golongan beruntung, jika hari ini lebih baik dari hari kemarin.

2. Golongan merugi, jika hari ini sama dengan hari kemarin.

3. Golongan celaka, jika hari ini lebih buruk daripada hari kemarin.

Semoga hari demi hari yang kita lewati bersama-sama ini,

menjadi awal menuju perbaikan diri.

Aamiin

========================

MAKNA MUHASABAH

Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata, "Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, "Hadits ini adalah hadits hasan")

Gambaran Umum Hadits

Hadits di atas menggambarkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan Rab-nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah). Hal terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah mengaitkan evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa nafsu dan banyak angan.

Indikasi Kesuksesan dan Kegagalan

Hadits di atas dibuka Rasulullah dengan sabdanya, "Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya." Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah visi yang membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga kehidupan setelah kematian.

Seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat. Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi dan planing untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi. Karena orang sukses adalah yang mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya. Orang bertakwa adalah yang "rela" mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang lebih mulia, "kebahagian kehidupan ukhrawi."

Dalam Al-Qur"an, Allah swt. seringkali mengingatkan hamba-hamba-Nya mengenai visi besar ini, di antaranya adalah dalam QS. Al-Hasyr (59): 18-19.

Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai kunci pertama dari kesuksesan. Selain itu, Rasulullah saw. juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Dan hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya dalam hadits di atas dengan "dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian." Potongan hadits yang terakhir ini diungkapkan Rasulullah saw. langsung setelah penjelasan tentang muhasabah. Karena muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.

Terdapat hal menarik yang tersirat dari hadits di atas, khususnya dalam penjelasan Rasulullah saw. mengenai kesuksesan. Orang yang pandai senantiasa evaluasi terhadap amalnya, serta beramal untuk kehidupan jangka panjangnya yaitu kehidupan akhirat. Dan evaluasi tersebut dilakukan untuk kepentingan dirinya, dalam rangka peningkatan kepribadiannya sendiri.

Sementara kebalikannya, yaitu kegagalan. Disebut oleh Rasulullah saw, dengan "orang yang lemah", memiliki dua ciri mendasar yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing, tidak ada action dari planingnya, terlebih-lebih memuhasabahi perjalanan hidupnya. Sedangkan yang kedua adalah memiliki banyak angan-angan dan khayalan, "berangan-angan terhadap Allah." Maksudnya, adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut: Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada Allah, bahkan selalu berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Urgensi Muhasabah

Imam Turmudzi setelah meriwayatkan hadits di atas, juga meriwayatkan ungkapan Umar bin Khattab dan juga ungkapan Maimun bin Mihran mengenai urgensi dari muhasabah.

1. Mengenai muhasabah, Umar r.a. mengemukakan:

"Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.

Sebagai sahabat yang dikenal "kritis" dan visioner, Umar memahami benar urgensi dari evaluasi ini. Pada kalimat terakhir pada ungkapan di atas, Umar mengatakan bahwa orang yang biasa mengevaluasi dirinya akan meringankan hisabnya di yaumul akhir kelak. Umar paham bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab dari Allah swt.

2. Sementara Maimun bin Mihran r.a. mengatakan:

"Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya".

Maimun bin Mihran merupakan seorang tabiin yang cukup masyhur. Beliau wafat pada tahun 117 H. Beliaupun sangat memahami urgensi muhasabah, sehingga beliau mengaitkan muhasabah dengan ketakwaan. Seseorang tidak dikatakan bertakwa, hingga menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri. Karena beliau melihat salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi.

3. Urgensi lain dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah swt. dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya. Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur"an: "Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri." [QS. Maryam (19): 95, Al-Anbiya" (21): 1].

Aspek-Aspek Yang Perlu Dimuhasabahi

Terdapat beberapa aspek yang perlu dimuhasabahi oleh setiap muslim, agar ia menjadi orang yang pandai dan sukses.

1.Aspek Ibadah

Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah. Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini. [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]

2. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki

Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:

Dari Ibnu Mas"ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, "Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya." (HR. Turmudzi)

3.Aspek Kehidupan Sosial Keislaman

Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw. dalam sebuah hadits:

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?" Sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan." Rasulullah saw. bersabda, "Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)

Melalaikan aspek ini, dapat menjadi orang yang muflis sebagaimana digambarkan Rasulullah saw. dalam hadits di atas. Datang ke akhirat dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain; mencaci, mencela, menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengintimidasi dsb. Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya. Bahkan karena kebaikannya tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut dicampakkan pada dirinya. Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan dosa, akibat tidak memperhatikan aspek ini. Na"udzubillah min dzalik.

4. Aspek Dakwah

Aspek ini sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan. Karena menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga substansi dari da"wah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat dsb.

Tetapi yang cukup urgens dan sangat substansial pada evaluasi aspek dakwah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah sejauh mana pihak lain baik dalam skala fardi maupun jama"i, merasakan manisnya dan manfaat dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan? Jangan sampai sebuah "jamaah" dakwah kehilangan pekerjaannya yang sangat substansial, yaitu dakwah itu sendiri.

Evaluasi pada bidang dakwah ini jika dijabarkan, juga akan menjadi lebih luas. Seperti evaluasi dakwah dalam bidang tarbiyah dan kaderisasi, evaluasi dakwah dalam bidang dakwah "ammah, evaluasi dakwah dalam bidang siyasi, evaluasi dakwah dalam bidang iqtishadi, dsb?

Pada intinya, dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang jauh dari nilai-nilai dakwah itu sendiri. Mudah - mudahan ayat ini menjadi bahan evaluasi bagi dakwah yang sama-sama kita lakukan: Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". [QS. Yusuf (12): 108]

Pentingnya Muhasabah dalam Kehidupan Muslim

Muhasabah dalam pengertian bahasa adalah proses menghitung-hitung. Adapun di dalam khazanah keislaman, muhasabah ini dimasukkan dalam usaha seorang muslim dalam melakukan tazkiyyatun nafs atau penyucian jiwa, sebagaimana isyarat pentingnya difirmankan Allah SWT:

"Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan jiwanya dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia shalat.” (QS. 87:14-15)

"... dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan,

sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. 91:7-10)

Muhasabah berarti memperhitungkan amal perbuatan diri; Apabila ia mendapati dirinya melakukan perbuatan baik ('amal shalih) dalam mentaati Allah (tha'ah), maka ia akan bersyukur kepada Allah SWT. Sebaliknya apabila ia mendapati perbuatan dosa dan melanggar aturan Allah (ma'shiyat), maka ia akan menyesali perbuatan tersebut dengan memohon ampun kepada Allah atas kesalahannya (beristigfar) dan kembali kepadaNya (bertaubat) serta kemudian melakukan kompensasi kesalahan itu dengan memperbanyak perbuatan baik.

Muhasabah ini dilakukan secara terus menerus dalam kehidupan seorang muslim. Sebagian ulama mengajarkan muhasabah harian seiring dengan amal-amal harian (amalan yaumiyyan) yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah seperti shalat malam (qiyamul lail), tilawah Quran, dzikir di waktu pagi dan petang dll. Muhasabah ini semakin banyak dilakukan akan semakin baik, sebagaimana dzikir yangbanyak itu diperintahkan Allah SWT.

Hidup adalah Perniagaan dengan Allah SWT.

Untuk merenungkan masalah muhasabah ini marilah kita mulai dengan kehidupan yang di dalam beberapa tempat dilambangkan sebagai perniagaan oleh Allah SWT:

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi (QS. 35:29)

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. 61:10-12)

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka ... (QS. 9:111)

Sungguh perniagaan yang ditawarkan Allah SWT ini adalah perniagaan yang amat menguntungkan bagi kita. Tiada lain yang dapat kita rasakan di dalam hati ini, kecuali bahwa Allah Maha Pemurah kepada hamba-hambaNya yang taat. Bagaimana tidak, semua yang ada di langit dan di bumi adalah milikNya termasuk diri kita. Akan tetapi karena kemurahan dan kasih sayangNya, segala usaha kita akan diridhaiNya dan diberiNya ganjaran kebahagiaan surga yang penuh kenikmatan.

Maka kesadaran akan adanya janji perniagaan dengan Allah ini membuat kita senantiasa menghitung-hitung modal, keuntungan dan kerugian kehidupan kita. Ketika kita melakukan amal perbuatan, maka selalu diperhitungkan, apakah perbuatan ini memberikan keuntungan ataukah kerugian. Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin mengumpamakan modal adalah kewajiban-kewajiban, keuntungan adalah amalan sunnah dan kerugian ada pada perbuatan-perbuatan dosa.

Penyempurnaan Kewajiban

Sebagaimana diibaratkan Imam Ghazali, pelaksanaan kewajiban adalah modal utama dalam hidup. Oleh karena itu hendaknya kita tunaikan segenap kewajiban kita kepada Allah dengan penuh keikhlasan. Dalam hal peribadahan kita sempurnakan tata caranya (kaifiyat-nya) sesuai dengan tuntunan sunnah Nabi Muhammad SAW, sebab mengikuti contoh Nabi ini menjadi syarat diterimanya ibadah kita. Adapun dalam hal perbuatan baik yang sifatnya bukan ibadah ritual, hendaknya kita mengikuti (ittiba') kepada Nabi Muhammad SAW dalam ajarannya yang utuh. Sesungguhnya sunnah Nabi ini akan menghantarkan kita pada akhlak mulia pada seluruh aspek kehidupan, sebagaimana sabdanya: ”Sesungguhnya hanyalah aku ini diutus (sebagai Rasul) untuk menyempurnakan akhlak mulia.”

Allah SWT akan memberikan balasan yang baik atas amal kebaikan yang telah kita lakukan. Kemudian hendaknya kita memohon ampun kepadaNya atas segala kekurangan kita dalam menunaikan kewajiban kepada Allah.

... maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 73:20)

Khawatir dengan Perbuatan Dosa

Ada hadits shahih yang membuat kita khawatir dan berhati-hati dalam perhitungan ini, yaitu hadits riwayat Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah yang menyebutkan pernyataan Rasulullah SAW: "Orang-orang yang benar-benar bangkrut—di antara umatku—ialah mereka yang datang di hari Kiamat dengan membawa (seabrek) pahala shalat, puasa, dan zakat; tapi mereka datang setelah (di dunia) mencaci ini, menuduh itu, memakan harta si ini, melukai si itu, dan memukul si ini. Maka diberikanlah pahala-pahala kebaikan mereka kepada si ini dan si itu. Jika habis pahala-pahala kebaikan mereka sebelum terpenuhi apa yang menjadi tanggungan mereka, maka diambillah dari dosa-dosa orang-orang yang pernah mereka salahi dan ditimpakan kepada mereka, kemudian dicampakkanlah mereka ke api neraka.” Na'udzu billah min dzaalik, kita memohon perlindungan kepada Allah dari kebangkrutan seperti itu.

Kekhawatiran seperti ini menjadi bagian dari muhasabah kita. Apalagi kita mengetahui bahwa Allah SWT akan memperhitungkan semua amal perbuatan kita hingga sekecil apapun:

Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. 99:6-8)

Waspada dalam Perbuatan Mubah

Selain pada penunaian kewajiban dan pada perbuatan dosa, muhasabah juga diperlukan dalam memandu kita menyikapi perbuatan-perbuatan yang boleh kita lakukan. Dalam terminologi hukum fiqih inilah yang disebut perbuatan mubah. Termasuk dalam perbuatan mubah adalah menikmati suasana bahagia di dalam rumah, makan dan minum, tidur, dan jalan-jalan menikmati pemandangan alam. Asal hukum perbuatan di atas adalah mubah. Perbuatan ini akan menjadi perbuatan berpahala ketika disertai dengan niat kebaikan karena Allah. Misalnya, membahagiakan keluarga dalam rangka memenuhi kewajiban memberi nafkah kepada mereka; Makan, minum dan tidur agar tubuh menjadi sehat dan mampu mengerjakan amal kebaikan; Menikmati pemandangan alam untuk memikirkan kekuasaan dan kebaikan Allah kepada manusia (tafakur).

Pada perbuatan-perbuatan mubah ini tempat muhasabah adalah menjaga jangan sampai perbuatan-perbuatan ini dilakukan secara berlebihan.

Seorang sahabat yang bernama Hanzalah r.a. mengisahkan tentang dirinya sebagai berikut. Abu Bakar r.a. telah menemui aku. Ia pun bertanya, "Bagaimana (keadaan iman) engkau ya Hanzalah?” Aku pun menjawab, "Hanzalah telah munafik.” Abu Bakar pun menyebutkan, "Subhanallah, apakah yang engkau katakan (ya Hanzalah)?!” Aku berkata, "Kita ketika berada di sisi Rasulullah SAW, beliau itu mengingatkan kita tentang surga dan neraka, kita seolah-olahnya melihat (surga dan neraka itu) dengan mata kepala. Kemudian bila kita berpisah dari Rasulullah SAW, kita pun sibuk dengan isteri-isteri, anak-anak dan kerja-kerja kita. Maka kita lupa semuanya (tidak bisa ingat akhirat seperti berada di hadapan beliau lagi).” Abu Bakar berkata, "Demi Allah kami pun mengalami seperti (cerita engkau) ini.” Mereka berdua pun menghadap Rasulullah SAW dan beliau menanggapi dengan mengungkapkan bahwa bisa mereka bisa mempertahankan kondisi ingat akan akhirat seperti pada majelisnya niscaya para malaikat akan menyalami mereka. Akan tetapi keadaan iman manusia itu memang berubah-ubah dari waktu ke waktu, sambung beliau.

Pelajaran yang ingin kita petik dari kisah di atas adalah, bagaimana para sahabat senantiasa waspada jangan sampai perbuatan mubah mereka menyeret pada kelalaian mengingat Allah, apalagi sampai melakukan perbuatan dosa. Karenanya di antara gambaran para penghuni surga adalah:

Mereka berkata, "Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)." Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang. (QS. 52:26-28)

Muhasabah dan Hari Hisab

Di antara sarana bermuhasabah yang penting bagi kita adalah dengan mengingat yaumil hisab atau Hari Perhitungan; Yaitu hari ketika kita akan menerima catatan amal perbuatan kita selama hidup di dunia. Begitu banyak Allah SWT mengingatkan kita pada Kitab al-Quran akan hari pembagian rapor kehidupan ini, di antaranya:

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang juapun". (QS. 18:49)

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: "Ambillah, bacalah kitabku (ini)". Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal ang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu". (QS. 69:18-24)

Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfa'at kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku." (QS. 69:25-29)

Demikianlah Allah SWT menggambarkan penghuni neraka adalah mereka yang selama hidupnya lalai dari mengingat hari penghisaban amal perbuatan, sebagaimana ditegaskan pada firmanNya:

Sesungguhnya neraka jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal. Sesungguhya mereka tidak takut kepada hisab, dan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dengan sungguh-sungguhnya. Dan segala sesuatu sudah Kami catat dalam suatu kitab. Karena itu rasakanlah. Dan kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab. (QS. 78:21-30)

Penutup

Melakukan muhasabah pada hakikatnya adalah cara untuk menyayangi diri kita sendiri, agar jangan sampai mengalami kerugian tiada tara di akhirat nanti. Muhasabah adalah upaya mengingatkan diri secara sungguh-sungguh agar selalu melakukan amal kebaikan dan menghindari diri dari amal buruk. Karena itu para ulama yang shalih mengatakan, hari penghisaban itu akan Allah ringankan bagi mereka yang sering bermuhasabah di dunia. Dan hari penghisaban akan amat berat bagi mereka yang lalai melakukan muhasabah dalam hidupnya. Umar bin Khattab r.a. mengatakan, ”Hisablah dirimu sendiri, sebelum kelak engkau dihisab.” Ketika mendeskripsikan perihal orang yang cerdas, Rasulullah SAW mengatakan, ”Orang yang cerdas adalah ialah yang mampu menundukkan hawa nafsunya (kepada kebenaran) dan beramal untuk (waktu) setelah kematiannya.”

Wa Allahu a'lamu bish shawwab.

Hakikat Muhasabah

Oleh : Asep Sulhadi

Muhasabah atau introspeksi diri adalah kata yang hakikatnya sering isalahpahami mayoritas orang. Mereka beranggapan introspeksi diri adalah mengingat perbuatan dosa yang telah dilakukan, dengan menyesali dan menangisinya.

Padahal, pengertian tersebut bukanlah termasuk ke dalam muhasabah. Namun itu adalah salah satu dari syarat-syarat taubatan nasuhan (taubat yang murni). Merujuk kepada hadis Rasulullah SAW tentang hakikat muhasabah, akan kita temukan yang dimaksud dengan muhasabah adalah memaksakan diri dan menundukkannya agar taat melaksanakansemua perintah Allah SWT sebagai bekal di akhirat.

Rasulullah SAW menyebut orang seperti itu dengan sebutan 'orang yang berakal'. ''Orang yang berakal adalah orang yang memaksa dirinya untuk taat kepada Allah SWT dan berbuat (mempersiapkan bekal) bagi akhirat, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang membiarkan dirinya mengikuti hawa nafsu kemudian berangan-angan agar Allah mengampuninya.'' (HR At Tirmidzi).

Muhasabah menurut Rasulullah SAW sama artinya dengan jihad nafs atau jihad memerangi dan mengekang hawa nafsu. Rasulullah SAW dalam sabdanya yang lain menegaskan jihad nafs adalah salah satu jihad paling besar dan termasuk ke dalam hakikat seorang mujahid. ''Mujahid adalah orang yang mengekang jiwanya untuk taat kepada perintah Allah.'' (HR Ahmad).

Dari pengertian di atas, jelas bahwa hakikat muhasabah bukan mengingat dosa-dosa yang telah lalu, kemudian menyesali dan menangisinya. Namun, hakikat muhasabah adalah memaksakan diri untuk taat melaksanakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya.

Karenanya, Umar bin Al Khatab pernah berkata, ''Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, karena sesungguhnya hisab pada hari kiamat adalah ringan bagi orang-orang yang menghisab dirinya di dunia.''

Maksudnya adalah tundukkanlah diri kalian agar patuh melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangannya karena dengan cara inilah hisab kalian akan ringan pada hari kiamat.

Marilah kita bergegas melaksanakan hakikat muhasabah yaitu dengan mengerjakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya, agar di akhirat kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang hisabnya ringan. Wallahu a'lam bish-shawab.

http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=14